Love at First Sight: Arti dan Cara Menggunakannya

WELE Team4 min read1 views
Love at First Sight: Arti dan Cara Menggunakannya

Waktu baru pindah ke Hanoi untuk kuliah, saya ikut sepupu perempuan saya ke 1 pusat bahasa Inggris belajar dengan orang asing. Sepupu ikut tes kursus, saya ikut saja buat seru.

Di kelas, ada 1 grup sekitar 10 orang. Saya ingat guru orang Eropa, tinggi, tampan, rambut pirang. Guru bertanya satu per satu pertanyaan sederhana dan giliran saya.

Saya waktu itu grogi banget, diam saja sambil tersenyum karena tidak paham guru bicara apa. Baru setelah pulang sepupu saya bilang itu kalimat: Why do you like English? ^^.

Pulang ke rumah, sepupu menunjukkan banyak cara belajar bahasa Inggris. Saya juga cari di internet dan temukan metode belajar salin ejaan. Saya mulai dengan situs web Spotlight English, VOA Special English. 1 situs ada Inggris-Amerika, 1 situs bahasa Amerika. Saya beli 1 buku notes dan mulai mendengarkan - salin ejaan. Awalnya saya antusias banget, 1 audio spotlight panjang 15 menit, saya salin beberapa lembar A4. Saya salin terus selama sekitar 3 minggu, tangan capek dan males banget, lalu berhenti.

Tapi saya juga sadar, tiba-tiba saya bisa mendengar audio Spotlight lebih baik, kata yang pernah salah jarang salah lagi. Apalagi saya kurang salah bunyi /s/ di akhir kata benda atau kata kerja. (Karena buku notes penuh coretan pena merah koreksi bunyi /s/.

Waktu itu saya pikir, cukup belajar sampai nilai ujian bahasa Inggris lulus kuliah saja. Lulus kuliah saya pulang kampung kerja, ngapain butuh bahasa Inggris, jadi saya tidak berusaha belajar.

Sekarang, era AI datang, alat AI bantu hapus semua hambatan bahasa. Awalnya saya senang banget, jadi makin tidak perlu belajar bahasa apa pun tapi tetap bisa nonton semua video, baca semua artikel dalam semua bahasa populer di dunia. Tinggal pakai Chat GPT dan extension-extension sudah selesai ^^

Sampai saya coba-coba pakai Midjourney. Ini software buat gambar, bantu ubah semua imajinasi di kepala jadi gambar. Perintah (promt) buat menggambar wajib pakai bahasa Inggris. Dan saya merasa sulit dari sini.

Buat deskripsi 1 gambar, perlu tahu pakai kata sifat, banyak sekali kata sifat. Saya justru tidak punya cukup kosakata buat deskripsikan hal-hal liar di kepala.

Waktu itu saya sadar, di era AI, makin harus belajar bahasa Inggris biar bisa kuasai alat AI lewat promts. Promt engineering adalah keterampilan era baru.

Saya kenal WELE lewat Bu Thuy Hoang. Kebetulan scroll fb-nya Bu Thuy, lihat workshop WELE bareng Cấy nền Ngoại ngữ yang di-host Bu Thuy. Saya join coba-coba buat seru saja (karena suka dengar Bu bicara, tapi juga nggak terlalu peduli WELE itu apa).

Saya juga tidak ikut workshop dari awal sampai akhir. Saya join pas bagian Mas Hiếu cerita tentang mimpi WELE. Mas berharap, di masa depan, WELE bisa bantu orang-orang wisata lokal percaya diri ceritakan kisah penuh emosi tentang tanah tempat mereka hidup turun-temurun, biar setiap kisah MENYENTUH hati setiap tamu internasional.

Saya merasa mimpi Mas terlalu indah, dan saya mulai penasaran tentang WELE.

Malam itu, saya buka situs WELE buat coba. Saya harus WOW karena hal-hal menarik yang saya lihat di WELE sejak pemakaian pertama. I love WELE at first sight.

Desain kursus WELE persis seperti cara saya belajar sendiri lebih dari 10 tahun lalu: Dengar - Salin ejaan. Tapi WELE naikkan level itu pakai software, dan penilaian otomatis, bikin saya santai banget. Selesai, submit tugas langsung tahu hasil. Saya tinggal catat di buku kata yang salah, atau frasa yang saya suka.

Saya antusias banget, dan bertekad coba series latihan sesuai jalur paling dasar yang Mas Hiếu share di grup workshop.

Saya putuskan habiskan 365 hari ke depan latih lagi metode dulu. Saya buat 1 halaman fb, setiap hari saya akan post hasil latihan hari itu.

Kali ini, dengan WELE, saya tidak akan menyerah lagi.

Terima kasih Bu Thuy, terima kasih Mas Hiếu untuk hal-hal indah dan polos yang sudah diberikan ke dunia ⚘️⚘️

Link post: https://www.facebook.com/groups/welelearn/posts/3435402319927141

WELE Team
The WELE team writes about dictation, listening practice and how to keep self-study going.